Monday, 25 August 2014

Untuk Yang Pernah Menggenggam Jemariku


Untuk kamu yang menghadiahiku kenangan
Kita, pernah sama-sama tertawa
Kita, pernah membangun masa depan diangan-angan bersama
Kita, adalah apa yang orang lain dambakan
Kita, adalah cinta yang muda, cinta yang menggelora berkejaran dengan degub jantung yang tak pernah pelan saat bersama.

Kamu, kamu tau, kamu adalah ciuman pertamaku.
Kamu adalah segala pengecualian yang aku benci.
Kamu adalah tuan bagi hatiku.

Mungkin jika ditimbang, rasa sakit yang kau goreskan dengan begitu manis dan rapih dihatiku dan cinta yang berantakan susah payah aku berikan untuk kamu seimbang
Aku sudah tidak pernah menangis untuk kamu.
Entahlah, malam ini goresan sialan ini menganga lagi.

Kau pasti tau, sebobrok apa kondisiki waktu itu.
Dan trimakasih untuk sikapmu yang tetap kukuh untuk pergi.
Setidaknya itu membuatku tegar.
Tidak tau jadinya jika waktu itu kamu masih mencoba peduli padaku, mungkin aku akan jatuh lagi menghamba cintamu.

Sumpah mati aku benci mencintaimu
Tidak taukah kamu, seberapa jatuh bangun aku mencoba mengikhlaskanmu?
Aku tidak siap, tidak akan pernah siap.
Tapi kamu sepertinya tergesa-gesa pergi.
Tapi aku harus terima, walau artinya sama saja dengan bunuh diri
Manusia memang makhluk tolol yang tidak pernah bersyukur
Jika menilik kebelakang, begitu bahagianya aku punya kamu, dulu.

Masih rapi diingatan
Betapa manis janjimu
Betapa meyakinkannya matamu
Betapa amannya pelukmu
Betapa semuanya itu sia-sia

Karna sekarang
Janji itu untuk wanitamu yang sekrang
Karna kamu harus meyakinkan wanitamu yang sekarang
Karna kamu harus memberi rasa aman pada wanitamu yang sekarang
Dan aku? Aku mau-tidak-mau harus menerima kenyataan itu.

Aku benci merindukan kenangan bersamamu
Aku benci merindukan kecupmu yang selalu tiba-tiba itu
Aku benci merindukan wangi tubuhmu
Aku benci serapuh ini, untuk kamu.

Mengais harga diri?
Untuk apa? Toh sudah kubuang jauh-jauh saat mengemis cintamu kembali
Yang tersisa?
Tawa yang hampa
Luka yang kupuja

Betapa aku benci dirimu yang menawarkan cinta yang begitu indah waktu itu
Tapi aku[un mengutuki diriku sendiri untuk menerima dengan gembira
Sesal? Iya seperti ingin mempunyai mesin waktu, lalu menenggelamkan kepalaku dibak mandi agar aku segera sadar.

Sepertinya aku harus menerima, bahwa kamu sekarang sudah bahagia dengan wanitamu.
Bahwa aku juga manusia yang punya kesalahan
Bahwa akupun tidak sempurna, aku pasti pernah menggores luka dihatimu

Lalu, hatiku marilah berdamai, mari kita sama-sama berjuang untuk sembuh.
Hatiku, cepatlah sembuh. Ayo tertawa lagi tanpa meneteskan air mata. Ayo kita menari lagi pada irama lagu yang gembira.
Hatiku, mari kita renovasi lagi ruang-ruang yang runtuh, lalu kita cat dengan warna-warna terang.
Hatiku, lepaskanlah, tinggalkanlah, relakanlah, ikhlaskanlah dia. Agar kita ringan melangkah.

Aku tidak bisa berjanji akan memaafkanmu dengan cepat
Tapi aku yakinkan kamu, kala waktu itu datang aku akan menjadi manusia yang sama seperti pertama kali kita bertemu.
Tidak ada cinta dan lupa akan kenangan kita.
Pegang kata-kataku.

No comments:

Post a Comment