Pages

Showing posts with label broke. Show all posts
Showing posts with label broke. Show all posts

Saturday, 19 February 2022

Why the past should stay in the past


Been ugly crying in my prayers, asking God pleaseeee, at least make me once again, met him. And God in His Crown mocking me, by giving me the chance to meet him one more time, and all the lust, the thirst, the passion that was there, now gone. None. Zero. It’s just a bunch of memory. It feels like he still the same but everything about him is change.

 

He dont want me anymore. I miss us, and that’s what I need to separated, between the person and the memories. The memories stay the same, and the person is just not the person I used to met two years ago.

 

There’s no regret, I'm just glad that he is fine. I do really hope you’re doing okay, it’s been nice knowing you. I really hope you find someone you really want. That ex you want so much, you finally got her, I really hope you get her back. Good bye, i hope your life will always full with joy and love😊

Wednesday, 4 August 2021

Rumah Mbah Kakung Dijual.

Mbak Lona bilang kostan bakal dijual. Terus bilang lagi udah ada yang beli. Tercekat. Tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Dari awal makhluk itu minta ganti nama, aku tau kalau ini bakal terjadi. Mbah Uti belum meninggal, tapi peninggalan Mbah Kakung sudah dijual.

 

Teringat waktu Mbah Kakung bilang “anak putuku, tak sangoni lemah, omah karo kost-kostan dinggo urip” sekarang sudah terjual. Sakit, dan pedih. Banyak kenangan disana, sekarang untuk kembali ke kampung pun dadaku terasa sakit. Berpikir akan masuk kedalam rumah itu lagi, tahu bahwa disamping rumah bukan lagi punya Mbah Kakung pun terasa menyakitkan.

 

Hancur rasanya, maaf Mbah Kakung, cucumu tidak bisa mempertahankan rumah yang kau wasiatkan, maafkan aku Mbah.

 

Betapa sakitnya hidup dirumah yang omonganmu tidak didengar, perasaanmu tidak valid, apapun yang kami katakan atau rasakan tidak diindahkan. Aku berharap semoga bisa segera mempunyai cukup uang untuk membeli kembali milik Mbak Kakung.

 

Sabar ya Mbah, tunggu aku sama Mbak Lona cari duit dulu ya, nanti aku ambil lagi rumahnya. Aku sayang Mbah Kakung.

Friday, 23 July 2021

Untuk Uci.

 Bersimbah air mata Uci dihadapanku, dengan sisa-sisa suara yang masih ada, Uci berkata,

“Ca, aku mau lepas jilbab”

Tidak kutanya mengapa, hanya kupeluk dan kutenangkan dirinya. Pasti berat keputusannya, pasti takut dan gemetar hatinya akan konsekuensi yang akan dia dapatkan dari orang sekitar, dari keluarganya, dari orang-orang terdekatnya.

 Hanya menangis tersedu-sedu Uci dipelukanku, tidak ada sepatah katapun keluar setelahnya, hanya tangis yang kini terisak. Tangannya gemetaran, menggenggam tanganku erat. Oh, Uci temanku, sudah lama kita tidak bertegur sapa, ternyata berat pergulumanmu selama ini. Maafkan aku yang baru ada waktu, yang tidak bisa hadir didalam sesaknya pikiranmu.

 Tidak banyak yang kita bicarakan sore itu, hanya saling berpelukan menguatkan.

 Aku harap Uci tahu, bahwa orang-orang disekitarnya yang peduli dan sayang padanya tidak akan peduli dengan bagaimana dia mengekspresikan dirinya. Aku tahu bahwa Tuhan tetaplah penyayang. Semoga Uci dapat kuat dengan pandangan dan omongan orang-orang disekitarnya. Berbahagialah untuk dirimu sendiri dulu, Uci. Jangan dengarkan omongan orang yang tidak sayang padamu. Aku akan selalu disini mendukung semua keputusanmu, asalkan itu baik untukmu, dan tidak merugikan orang lain.

  

Oh, Uci temanku, bertahanlah dalam kesesakan, nanti kita beli es krim coklat ya.

Saturday, 10 July 2021

Habis Gelap Kapan Terang?

Tulisan ini dibuat setelah akhirnya tumbang kehabisan sertraline. Sudah berhari-hari tidak merasakan emosi apapun, hidup seperti zombie, tapi beberapa menit dalam sehari bisa cemas dengan luar biasa. Merasa tidak bisa tidur, membayangkan sesuatu menghatam tubuhku sampai aku mati. I really wish my depression go away because I want to be able to do my task, to do my dialy routine. Even writing this down really takes so much from my energy.

 

I want to cerish all of my friends because they deserve the best in me but I can’t even lift my head a bit. Wish I was rich enough so I have no problem paying all of these therapists. I'm tired of being tired. I’m tired of having this baggage. I can't keep having silent panick attack, I’m so fucking sick of this depression.

 

Semoga suatu saat semuanya menjadi lebih baik. Im in my twenties, im still so young, I shouldn’t have to carry this demon behind my back everyday.

Friday, 4 December 2020

Bangsatnya 2020

Dari awal Januari udah ada berita nggak asik dari negri bamboo. Terus kematian Kobe Bryan, and then February Ashraf Sinclair. 2020 bener-bener ngambil orang-orang hebat dan baik. Terus akhirnya karna kasus corona marak dibulan maret, kita semua disuruh pemerintah untuk work/school from home. Sayangnya karna menurutku pemerintah kurang galak dan dari awal emang kaya disepelain banget. Jadi sering kasihan sama yang dapet duitnya harian. Kalau yang tetep digaji bulanan mah asik aja bisa dirumah, nah kalau mereka yang dapet gajinya harian gimana????

 

Ditambah lagi banyaknya PHK dari perusahaan karna emang corona ini orang-orang harus dirumah aja. Yang awalnya semua gembira dengan adanya WFH, berarti punya banyak waktu sama keluarga. Akhirnya muncul trend bikin dalgona coffee, jadi chef dirumah, online shopping, nari-nari gemesh di tik-tok. Tapi karna dirumah terus, dari yang katanya cuma dua minggu, akhirnya mundur jadi sebulan. Dari sebulan jadi tiga bulan, yang tadinyanya banyak orang pakai masker, rajin cuci tangan dan pada akhirnya jadi yang kaya males-malesan karna ya emang ini pandemic berkepanjangan banget.

 

Bertahan dari bertubi-tubinya cobaan ditahun 2020. Diserang bebagai jenis kejenuhan. Kangen nggak bisa ketemu temen-temen, nggak bisa pulang kampung. Ditambah banyak sekali libur panjangan yang dicancel dan larangan pulang kampung. Lihat negara-negara lain udah mulai bisa hidup Kembali seperti biasa, tapi di Indonesia angka Covid makin tinggi. Ada rasa marah, jenuh, kangen, burnt out, sedih, jengkel, semua campur aduk.

 

Dari yang seneng bisa rebahan dirumah, sampe online vatigue. Semuanya bikin aku sendiri kaya serasa hamper gila, pengen pergi maen nggak bisa bebas, mau pulkam tapi sama aja Jogja zona merah. Asli rasanya kaya capek banget, pengen balik kerumah, ketemu Mbah Uti, tapi gimana, aku takut malah bawa penyakit ☹

 

I don’t know if I can stay alive for this year or at least hang on until the next year. Kaya hidup monoton banget, falling into depression for so many times. Crying in the middle of the night just because I'm mentally exhausted and I miss my friends. Tahun ini bener-bener kerasa banget cobaannya, harus menjaga kantong pikiran, mental, dan jiwa tetap stabil.

 

Nggak tau sampai kapan aku bisa bertahan, I hope everything gets better, for me and for y'all…