Sunday, 18 January 2015

Khayal-khayal Babu Untuk Multimedia 2013



Ini tulisan ditulis pertengahan 2013 waktu abis wisuda, udah masuk draft lama banget, dan baru ‘terlihat’ sekarang. Jadi kalau bahasanya masih alay, maapkeun ea qaqa :3

Khayal-khayal babu untuk mumed (singkatan untuk multimedia) 2013, khayalanku untuk mumed tuh, pengen banget satu kelas satu atap macam Big Brother yang ada ditrans tv itu lo. Kita bakal hidup disatu atap. Ada yang kuliah, ada yang kerja, ada yang lagi belajar untuk UAS ada yang UASnya udah selese dan libur. Ada yang malam minggu dirumah doang bareng sama yang sesama jomblo, gitar-gitaran. Ada yang malming baru pulang jam 12 abis pacaran :p

Hih, pasti lucu dan seru banget ya :’D karna satu rumah pasti perdebatan nggak bisa dipungkiri. Yang sekelas aja, sehari cuma 10 jam-an ketemu banyak yang bentrok :’) apalagi satu atap hihi. Pasti lucu ya, ada yang masak, ada yang main PS ada yang nonton TV, ada yang sibuk dikamar telpon-telponan sama pacarnya. Ada yang luluran dikamar mandi. Ada yang genjreng-genjreng diikuti beberapa suara sumbang :’)

Ada yang bertugas jadi Ibu/Bapak diantara kita. Mungkin tugasnya dia sebagai yang sering ngingetin ya, yang tiap pagi bangunin kita, masakin dll. Kayaknya yang cocok Maryam deh :’) terus nanti ada yang nangis-nangis abis putus, terus ditenangin temen-temen. Mungkin hidup bakal lebih mudah, kalau ada temen-temen yang deket.

Ihihi, seandainya ya temen-temen :D ada grup dota, grup dandan, grup hits, grup antah berantah, grup soleh, grup asoy dan grup grup lainnya, yang pasti kita semua tetep deket :’) Nggak pernah tau kalau ternyata tiga taun secepet ini temen-temen :’(. I will always miss you all so much.

Semoga kita semua menjadi orang yang sukses ya, entah apapun kita kelak :’)

Sancca, 29 Agustus 2013

Saturday, 17 January 2015

Wanita Baik-Baik?


Perasaanmu gimana sih kalau dicap perempuan nggak baik? Apakah lantas semua perempuan yang berani, kuat, mandiri, agresif itu disebut bukan perempuan baik-baik? Atau yang bukan berlatar belakang keluarga yang harmonis, bukan keluarga kaya, bukan keluarga abdi dalem atau kraton itu lantas bukan perempuan baik-baik?

Apakah diluar perempuan yang lembut, feminim, selalu berpakaian tertutup, rajin beribadah, “manut”, manja, pintar melakukan hal-hal domestik itu dikatakan perempuan tidak baik. Pasti kita perempuan yang nggak jago masak sering dikatain “Ih cewek kok nggak jago masak? Mau jadi apa kamu?!” aku sebenernya agak sedikit tersinggung, dengan omongan dari Bapaknya mantan yang bilang; “Wadon iku konco wingking, mosok gak bisa masak? Perempuan macam apa kamu?” Konco wingking? Teman dibelakang? Oh, maaf aku manusia seutuhnya dan aku mencari pendamping, bukan atasan. Saya tidak sedang melamar pekerjaan. Saya mencari suami yang menanggap bahwa pasangannya adalah manusia yang sepadan, bukan lebih rendah darinya.


Pandangan masyakarat terhadap perempuan yang berani mengemukakan pendapat itu bitch, dan wanita yang manut itu perempuan baik-baik? Jadi, aku adalah perempuan yang tidak baik karna pulang tengah malam atau pagi? Padahal itu urusan pekerjaan?

Aku punya temen yang seksi, seksi banget kayak Happy Salma (eh nulisnnya gini kan yah?). dia selalu dikatain slut, just because she’s sexy. Padalah dia sama sekali enggak mempertontonkan keseksiannya. Bajunya pun ketutup. Yah dasarnya seksi mah ya seksi aja, gausah dibuka-buka juga orang udah tau she’s hot. Sedihnya, yang ngatain dia slut pun malah kebanyakan wanita. Dan pernah temen-temen cowok aku tanyain, mau nggak punya istri dia( si mirip Happy Salma) they say “nggak mau ah, pasti udah dicobain banyak cowok. Alasan mereka bilang gitu? Karna si mirip Happy Salma ini banyak yang deketin dan cantik. Apa salahnya, seksi, cantik dan banyak yang deketin? Apalah lantas itu dianggap murahan? Gimana kalau si Happy Salma ini ternyata still virgin? Atau bahkan dia melakukan pacaran sehat? Kan kita juga nggak tau.

Terus perkara yang pakaiannya tertutup selalu lebih baik dibanding yang bajunya kebuka. Terus gimana kalau yang pakaian tertutup ini ternyata suka bergosip, suka memutar balikkan fakta, suka memanfaatkan orang lain. Sedangkan si pakaian terbuka ini malah suka menolong sesama, cuek sama gosip, nggak suka bergunjing, supel, dan ramah? Masyarat cenderung melebeli si pakaian tertutup dengan “Perempuan baik-baik” sedangkan sipakaian terbuka ini “Perempuan murahan.”

Menurutku pribadi sih, perempuan adalah manusia seutuhnya, derajatnya sama kaya laki-laki. Nggak bisa cuma lelaki aja yang punya jiwa kepeminpinan, dan wanita itu lemah lembut. Terus kalau sebuah perusahaan maju dipimpin oleh laki-laki, pasti semua orang bakal mengagumi. Tapi kalau dipimpin wanita pasti orang mencibir, mana “namanya juga cewek, pasti galak. Mimpinya pake mood” dan bla bla bla.

Pernah mengalami kejadian didepan mata kepala sendiri, seorang perempuan dilecehkan oleh sesama perempuan. Waktu itu kejadiannya udah agak malem, waktu pulang dari Mall abis nonton bioskop. Dibasement, ada mbak-mbak cantik pake hotpant jalan bareng temennya yang juga pake hotpants, kebetulah mobil mereka bersebelahan sama ibu-ibu yang juga mau pulang. Pas ibu-ibunya itu ngeliat kedua mbak-mbak cantik pake hotpant ini, ibu-ibu itu langsung marah-marah sama mbak-mbak ini, dikatain murahan dan lain sebagainya. Aku kok prihatin dan kasian sendiri sama mbak ini. Alasan pertaman kenapa prihatin, karna sesama wanita harusnya kita menjaga martabat kita satu sama lain, hanya karna kita berbeda dalam selera memilih busana, bukan berarti sebagian dari kita lebih baik/ lebih suci. Terus kasian, karna enggak sepantasnya mereka direndahkan seperti itu. Harusnya mereka dibiarkan dengan pilihan busana yang mereka inginkan. Juga kana itu bukan urusannya ibu-ibunya itu, kenal juga kagak kelez bukkk (yaelahhhh)


Lalu tanggapan masyarakat terhadap cewek bertato. Terlepas akhlaknya baik/buruk. Cewek bertato akan dicap jelek.  Entah ternyata dia sering menolong sesama, atau sering menjadi rewalan, atau juga pendonor darah tetap. Orang akan cenderung fokus pada tatonya yang dianggap tidak layak untuk perempuan. Lalu dia dilebeli perempuan nakal.

Terlepas dari pandangan agama/sosial. Tubuh kita adalah hak milik seutuhnya kita. Bagaimana nyamannya kita, toh semua resiko kita yang tanggung. Saya yakin mbak-mbak yang pake hotpants itu sudah tau resiko apa yang akan dia tanggung. Entah itu mata nakal para lelaki, atau tatapan sirik mbak-mbak lainya. Juga wanita-wanita yang bertato, kitakan nggak tau cerita apa dibalik tatonya. Aku kenal banyak kok cewek yang bertato tapi kalau lewat depan orang lain selalu bilang permisi, selalu kasih tempat duduk buat yang lebih tua, buat yang lagi hamil, difabel, anak-anak, dan ibu-ibu. Prestasi akademiknya juga bagus.

Bukankah pribadi kita masing-masing adalah pribadi yang merdeka? Bukannya arti merdeka itu independent tanpa campur tangan pihak luar. Bukannya setiap manusia berhak berekspresi atas dirinya sendiri? Bahkan ada beberapa wanita yang malah menjadi takut berekspresi karna takut dianggap bukan perempuan baik-baik. Takut dipandang wanita murahan oleh laki-laki.

Untuk semua wanita,
Wahai wanita yang seksi, yang cantik, yang berani, mempesona, menggoda, lemah lembut, bertato, berhijab. Kita semua adalah manusia yang seutuhnya. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk diantara kita. Masyarakatlah yang membeda-bedakan. Bahwa hatimu yang harus kamu jaga. Masalah penampilan itu adalah kebebasanmu berekspresi. Jadilah apa yang kamu inginkan. Pengen seksi kaya Angelina Joulie, boleh. Pengen soleh yang Mamah Dedeh, monggo. Pengen pinter kaya Cinta Laura, sok atuh. Pengen jadi wanita yang lembut kaya Umi Pipik, go ahead. Jadilah apa yang kamu mau, berekspresilah sesuai keinginanmu. Karna lelaki yang menganggapmu “konco winking” atau teman dibelakang, bukanlah lelaki yang pastas menjadi suamimu. Carilah suami yang menganggapmu partner. Yang menganggapmu teman satu tim. Kalian punya tugas yang sama berat. Nggak ada yang salah kok, jadi perempuan yang berani, independet, agresif, seksi, didekati banyak pria dan ekspresif. Yang salah itu pandangan masyarakat.

With love,
Perempuan.

Thursday, 15 January 2015

Hal Dari Pria Yang Bikin (Sebagian) Wanita Meleleh

Well, ngikutin blognya Mbak Okke, aku juga pengen menjabarkan kriteriaku sendiri. Mungkin ada yang sepaham :D

Humoris
Jujur, humoris itu kriteria yang menurut aku andalan. Tapi dengan cacatan humoris pada porsinya ya. Disaat kita butuh hiburan dia ada untuk membuat hari-hari kita lebih bewarna. Cuma dengan liat tingkah laku dia aja udah bikin kita ngakak-ngakak, dia nggak jaim (red: jaga image) didepan kita, dia selalu berusaha/tidak sengaja membuat kita tertawa. Hari-hari kita pasti full of joy :’) setiap hari bakal senyum-senyum terus kalau keinget tingkah dia yang lucu. Pulang kencan pasti senyum-senyum sendiri. Pastilah setiap hari kita merasa always fall in love.



Yang bisa melakukan hal-hal cowok
Kaya benerin gendeng, benerin ledeng yang rusak, masang kabel listrik, masang lampu, dan hal-hal berbau cowok lainnya. Karna entahlah, bagiku masih aneh kalau cowok itu nggak bisa masang bohlam lampu, atau apa-apa panggil tukang, tekor dong rumah tangga eyke kalau setiap apa-apa panggil tukang, dan sisuami cuma duduk-duduk nonton TV



Nggak cuek sama penampilan
Bukan, bukan metroseksual lo. Lebih kearah merawan kebersihan dan kerapian serta kewangian, hmmm :3 aku selalu suka bau cowok abis mandi apalagi sabunnya lifebouy merah, hehehe. Jangan ditanya kapan pernah mergokin cowok abis mandi -_- dulu pernah pacaran satu angkatan, dan pas kemah acara sekolah kebetulan kita antri dikamar mandi yang sama. Yuk cus, sebelum ngeres.



Gampang akrab sama anak kecil
Suka kesemsem kalau liat mas-mas lagi main dan dikerubutin bocah-bocah yang lagi main dengan bahaginya :3 nggak ngerti juga. Mungkin kesannya jadi kebapakan ya. Lagian deket sama anak kecil itu susah lo. Aku aja sebenernya nggak tahan sama rewel dan bawelnya anak-anak, jadi pasti ada anak kecil yang aku suka dan ada anak kecil yang pengen aku bopong dan lempar ke emaknya (maap saya sadezz .__.v)


Yang hapal kebiasaan kita
Ihhh :3 dulu punya mantan sangat amat memperhatikan kebiasaanku, he knows that imma freakin lazy. Selalu diingetin taruh sepatu dirak sepatu, terus abis makan dia bilang “tuh kan garpu sendoknya dibalik, hehe kaya nenek aku kamu tuh” atau dia tau kalau aku lagi PMS atau aku udah mulai ngambeg selalu kerumah bawa coklat, camilan dan softdrink. Dan aku tuh bisa galak banget kalau lagi laper, biasanya kalau aku udah bentak-bentakin dia, dia cuma ngusap-ngusap kepalaku sambil bilang “kalau laper, macannya keluar, ih” sambil kepalanya disun :3



Yang nggak malu punya pasangan kita
Beneran deh, diganteng sama pacar waktu dikenalin sama temen-temennya itu sesuatu :3. Terus dia dengan bangga bilang “kenalin nih cewekku” gitu. Bukannya kita yang ngintilin kemana cowok kita pergi terus cowoknya nggak tau kemana maen sama temen-temennya, terus akhirnya kitanya salah tingkah nggak tau musti ngapain. Saya pernah ngalamanin ini, jujur pacar saya masih sering gini ._. dulu waktu aku minta dianter kerumah temen, aku datengin dia ketempat dia kumpul bareng temen-temennya, dia cuma suruh aku gabung sama yang lain terus dianya main lagi sama temen-temennya, alhasil aku kicep nggak musti gabung keyang mana, dan akhirnya salah tingkah sendiri diteriakin temen-temennya. Iya, kasian ya~ huhu. Eniwey, posting gambar kita di path atau IGnya. Nggak segan dan malu buat nyapa ceweknya ditwitter/facebook. I know it sounds alay, tapi itu tuh kayak “ini lo cewek gue, lo kalo mau macem-macem gue, gue udah ada yang punya.” Karna kadang ada loh cowok yang nggak mau nulis atau mengakui status hubungannya dia, karna takut kehilangan “fans”.


Mungkin segitu dulu kali ya, lain kali dilanjutin. Sebenernya masih banyak yang ada diotak, tapi kalau ditulis semua,panjang ntar episode dunia persilatan #krik.

Dia Bilang Aku Jelek






Hihhhhh!!! Kalau diinget-inget lagi rasanya pengen meledak-meledak sambil nyabutin kumis tipisnya satu-satu. Jujur aku nggak pernah dikatain jelek dalam konteks apapun, bercanda apalagi serius. Paling banter cuma disuruh ngaca. Paling enggak dibelakangku ngomongnya, nggak pernah terang-terang didepan mataku bilang jelek. Waktu itu sebagai anak SMP kelas satu yang masih beranjak gede tapi belum gede-gede banget. Masih suka niruin gaya artislah, niruin gaya kakak kelas dan lain sebagainya. Dikatain jelek jelas bukan perkara yang mudah kala itu.

Sebagai remaja yang kelewat penasaran, aku selalu mencoba segala bidang yang baru. Ya walau akhirnya nggak ada yang terfokus kecuali tonti waktu. Ada beberapa bidang yang aku ambil waktu itu, ya les esketing (iya tau tulisannya bukan gitu), les biola, les tari, dan les teater. Semuanya aku cobain, hihi :p. nah di les teater ini aku ketemu sama Mas Galang temen satu les teater, dia udah SMA waktu itu, sebagai ABG yang ingin terlihat keren tentu saja aku berniat buat deketin Mas Galang yang katanya sih waktu itu paling ganteng.
Dan bisa diduga sainganku banyak banget. Mulai dari yang sesama SMP sampai mbak-mbak kuliahan juga suka sama Mas Galang, dan yang bikin kita semua tetep berpegang teguh sama harapan kami masing-masing sama Mas Galang adalah dia orangnya baik dan suka bercanda.

Sebagai anak SMP yang bedakan aja males, sisiran aja kalau cuma mau kesekolah akupun tau diri dan kembali biasa aja nggak ngejar-ngejar Mas Galang. Sampai suatu hari pas kita lagi latian teater tiba-tiba lampu mati, akhirnya kita remang-remang duduk melingkar ditemenin lilin ditengah-tengah kita. Nggak tau apa karna suasanya atau emang kita semuanya udah capek. Jadilah kita semua cuma duduk-duduk sambil ngobrol. Entah siapa yang mulai, pokoknya tiba-tiba kita bahas cinta-cintaan.

Waktu giliran ditanya siapa cowok yang lagi aku sukain, yaelah namanya bocah SMP ingusan dan pah poh aku cuma senyum malu-malu(in). Ttiba-tiba ada yang nyeletuk, Kempes tuh sukanya sama Mas Galang, terus serempak cie semua. Muka merah padam nggak terbendung lagi. Rasanya pengen ngilang dari situ, alih-alih menyangkal aku malah senyum-senyum kayak orang beneran kasmaran.

Dan ini yang paling bikin sakit hati, tiba-tiba aja Mas Galang nyeletuk, “Ah elah, anak SMP udah berani suka-sukaan, mending cantik. Udah jelek, dekil, nggak bisa ngrawat badan, ekskulnya aja disekolah tonti, mukanya gosong gitu. Ngaca dong sebelum kamu suka sama orang. Jangan ketinggian, inget itu.” Dia ucapin itu sambil menatap jijik, dan serius. Diiringi gelak tawa beberapa orang yang sama sekali nggak ngerti bawha, rasanya aku pengen cepet menghilang dari situ.

DEG!
Tiba-tiba aja, gambaran Mas Galang yang baik, suka bercanda, sering nolongin akupun buyar. Digantikan dengan Mas Galang yang nggak berperi kemanusia dan tega. Rasanya pengen nangis sekenceng-kencengnya. Untung keadaan masih mati lampu sampai akhirnya kita semua pulang. Selama dijalanpun aku jadi diem aja, termenung, nggak percaya, dan bener-bener jadi orang yang nggak pede.

Sampai dirumahpun aku nangis didepan kaca, karna apa yang dikatakan Mas Galang bener, aku gosong, jelek, nggak cantik, nggak kayak cewek lain sebayaku yang cantik dan udah pinter ngerawat badan. Entah apa yang ada dipikiranku, seminggu setelah kejadian itu aku tetep masuk kelas teater. Yang ada dibenakku mungkin Mas Galang bakal minta maaf apa gimana gitu.

Ternyata salah, malah Mas Galang selama kelas teater diem aja cuek sama aku. Dan pas pulangnya pun sempet-sempetnya Mas Galang manggil aku dengan sebutan buruk rupa.  “Heh Buruk Rupa! Gausah suka-sukaan sama aku deh.. hahaha!” gitu kata Mas Galang sambil pergi dengan motornya.

Sakit.

Sakit banget.

Patah hati pertamaku. Rasanya tidak pernah membaik. Bahkan setelah 7 tahun. Mikirinnyapun tetep bikin brebes mili. Karna dia lakuin itu disaat aku masih ABG banget, masih bocah, masih menganggap orang yang kita sukai bakal suka sama kita dan bakal hidup bahagia selamanya. Namanya juga anak SMP tontonannya gak jauh-jauh dan Disney dan dongeng-dongeng nggak masuk akal lainnya.

Setelah itu aku nggak masuk kelas teater lagi, selamanya sampai sekarang. Karna takut, takut sakit hati lagi.

----

Tadi pagi seperti biasanya aku berangkat kerja ngelewatin jalan raya yang sama, tiba-tiba samping kananku ada Mas-Mas entahlah, mukanya jerawatan, brewokan sana-sini dan jauh dari kesan rapi, bukan seni tapi lebih ke tidak terurus. Aku tausih dia sebenernya ganteng juga, karna dari tulang hidungnya yang mancung dan matanya indah kayak cewek. Dia klaksonin aku sambil senyum, aku kira Mas-Mas tengil iseng, jadi aku diemin. Eh tiba-tiba dia nyodorin tangan “Sancca ya? Kempes kan? Dulu teater di Gereja itukan?”. Akupun masih nggak ngeh, cuma aku bales, “hah?”

Lampu ijo. Aku jalan, dan ternyata Mas-mas ini ngikutin dari belakang, karna sedikit takut akhirnya aku berhenti dideket pos polisi. Aku tanya ada apa. Dia jawab:
“Sancca kan? Kempes kan?”
“Iya Mas, Mas ini siapa?”
“Yaampun nggak nyangka sekarang kamu udah tinggi banget ya, manis lagi. Kemana aja kamu? Kok nggak masuk kelas lagi?”
“Iya Mas ini siapa?”
“Galang, masak lupa? Teman satu kelas teatermu dulu.” Kata orang yang ternyata kalau diliat-liat mirip juga sama Mas Galang ini sambil nyodorin tangan.
Tiba-tiba langsung keinget kejadian dimana Mas Galang mempermalukanku dan bikin patah hati untuk pertama kalinya. Cuma kubales dengan senyum seadanya.
“Ada contact kamu nggak? Gila ya udah lama banget loh. Tambah manis aja kamu.”
“Nggak ada mas, maaf aku udah telat kerja.”
“Wah tambah kece tapinya kok sombong sekarang kamu? Masa nomer hape aja nggak ada?”
Karna nggak enak diliatin orang-orang dilampu merah, dan aku juga hampir telat kerja akhirnya aku kasihin nomerku ke Mas Galang. Sebenernya mau kasih nomer hp palsu, cuma dia ngotot pengen misscall hapeku. Jadi yaudahlah pasrah.

----

“Pes?” Ada chat line dari nama Galang.
“Kok tau lineku?”
“Iyakan tadi minta nomormu. Langsung ke add diline. Hehe lagi apa?” Sumpah aku muak dan marah banget. Nggak aku bales cuma aku read. Nggak lama Mas Galang line lagi. Ngeline banyak banget sampe hape ngehang.
“Cuma diread.”
“Cuma ditanyain lagi apa aja nggak mau jawab”
“Kapan-kapan meet up yuk, udah lama nggak ketemu ternyata kangen juga akunya, hehe.”
“*kasih pin BB* nih pin aku, kalau males linean, bbm juga ada kok.”
Mungkin karna nggak ada respon dari aku, Mas Galang pun telpon. Nanyain kenapa nggak dibales dan lain sebagainya. Kurang lebih pecakapannya gini:
“Halo, pes. Kok line dicuekin. Sibuk ya?”
“Iya.”
“Ehm ganggu dong.”
“Ya gitu.”
“Ketus amat, kayaknya dulu kamu nggak gitu.”
“Haha”
“Meet up deh yuk kapan-kapan.”
“Dimarahin pacar nanti akunya.”
“Ya aku yang ngomong sama pacarmu.”
“Ngapain? Gak usah, udah pasti gak boleh.” Jujur sebenernya masih ada sakit hati dan dendam banget membara. Makanya aku ngomongin apa yang jadi uneg-unegku selama ini.
“Ya dicoba dulu kan nggak ada salahnya. Kok dulu berhenti dari kelas kenapa?”
“Sakit hati.”
“Kenapa? Mas Anom?” Mas Anom ini pembimbing kita, emang orangnya agak nyleneh sih.
“Bukan.”
“Terus? Ngirit amat neng ngomongnya.”
“Yo mergo koelah! Emang koe ra eling mbiyen koe piye ro aku? Tak kiro koe ki wong apikan! Gelem nulungi, malah ngunekke aku elek. Bukanne minta maaf malah tambah ngunekke buruk rupa! Aku loro ati ngerti ra!” yang kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia kira-kira gini artinya; Ya karna kamulah! Emang kamu nggak inget dulu gimana sama aku? Aku kira kamu tuh orangnya baik! Mau nolongin, malah ngatain aku jelek. Bukannya minta maaf malah tambah ngatain aku buruk rupa!" Mas Gilang diem, agak lama.
“Oh karena itu, maaf ya aku juga nggak tau kenapa dulu bisa bilang gitu. Akukira juga kamu nggak bakal sesakit hati ini.”
“Eh gila kali ya, kamu pikir anak SMP itu belom bisa mikir? Terus karna sekrang aku udah gede, udah bukan anak SMP yang dekil, kumel nggak pinter ngerawat badan terus kamu mau main sama aku? Haha! Sorry tapi semoga ini jadi pelajaran buat kamu!” terus aku matiin. Sebelum tambah meledak-ledak.
Mas Galang beberapa kali coba telpon lagi. Aku matiin, dan akhirnya aku block.
Mungkin ini bisa jadi pelajaran buat kita semua, bahwa jangan remehkan fisik seseorang. Sumpah ini bukan quote-quote sok bijak. Tapi bener deh. Hanya karna seseorang dekil, jelek, pendek, nggak nutup kemungkinan besok dimasa depan cuma dia yang bisa bantu kamu.

Kita nggak tau masa depan semua orang. Bisa aja dia besok jadi bos kamu, atau kamu kalau pengen kerja kudu lewat dia. Makanya hati-hati sama omongan, mungkin kamu anggap bercanda, mungkin kamu anggap sepele. Tapi enggak dengan orang yang kamu omongin itu.

“words kill people more than the actuall death.”


Wednesday, 14 January 2015

Prihatin Terhadap Masa Kecil Anak Jaman Sekarang


Nggak ngerti lagi sama alasan KPI melarang stasiun televisi untuk menarik tayangan semacam Tom n Jeery, Spongebob, dll. Katanya sih terdapat kata-kata yang tidak patut didengarkan anak dibawah umur dan mengandung kekerasan (sudah mengandung berapa bulan? #lah #krik). Tapi kok alasan ini kurang tepat ya. Seharusnya KPI melihat bahwa tayangan itu sudah ada sejak anak generasi 90an masih imut-imut dan setelah anak 90an sudah siap diterjang dunia yang keras (iya keras, ketabok tab #iyadeh). Kami sebagai anak yang tumbuh dan berkembang diera Power Rangers, Pokemon, Jini oh jini, Dragon Ball, Gerhana, Tuyul dan Mbak Yul, Conan, Tsubasa, Haci, Hamtaro, Angling Darma (eeenggg) pasti ngerti banget jurus-jurus silat dan cara menendang dengan tendangan halilintar, tapi kami baik-baik aja tuh sampe sekarang. Ya ada sih (banyak) kasus kekerasan yang dilakukan oleh kita (kita dibaca anak-anak 90an) tapi itu semata-mata karna didikan yang salah, atau lingkungan yang kurang tepat.

Aku masih inget tuh gimana waktu SD aku dan temen-temen main Tsubasa-tsubasaan :p pake tendangan-tendangan spektakuler, pake jurusnya Dragon Ball, nggak ada yang terluka, YAIYALAH JURUSKAN NGGAK SAMPE NGENAIN ORANGNYA duh. Dan lihat dong, sekarang kita jadi generasi yang paling mantab *pasang kacamata* kita masih sempet main bareng temen-temen kita sebaya, mainnya diluar rumah ya, bikin mainan sendiri a.k.a mainan tradisional, juga ngobrolin tentang jururs-jurus yang ada di TV minggu pagi. Udah gitu gedenya kita masih bisa ngikutin perkembangan teknologi yang makin pesat aja. Semacam waktu kecil kita motorik dan temen-temennya dapet, pas gede modernnya dapet juga. Mantab gak tuh?

Kan malah sedih kalo film anak-anak semakin tergusur. Mending tergusur sama yang lebih berbobot, lah ini minggu pagi anak-anak dipaksa nonton FTV, Dahsyat, Inbox dan acara-acar musik pagi nggak jelas, yang isinya band-band yang entah kenapa bisa masuk TV padahal lypsing (lipsing tulisannya gini kan?) kalo enggak ya (ibuknya nggak mau repot) anaknya dibeliin tab satu-satu. Anaknya lima, ya dibeliin tab satu anak satu tab. Keren kan? Enggak! Sama sekali enggak keren! Anak-anak bakal cenderung diem aja dan nggak bisa bereksplorasi (halah bahasa lu tong). Maksudnya, anak-anakkan serba penasaran yah? Iya kan? (iyain aja). Bukannya anak itu lebih bagus kalo sering memegang, melihat berekperimen, bukan setiap hari dicekokin hal yang sama, monitor kotak dengan hal-hal warna-warni didalamnya, yang sayangnya flat -_-.

Sebagai remaja menuju bangkotan, aku sedikit prihatin (sedikit aja, kalo kebanyakan ntarnya kasinan #krik). Karna aku kerja dibidang percetakan dan kebetulan percetakan depan SD jadilah customer kebanyakan anak SD bikin sticker. Awal-awal sih mintanya frozen, upin-ipin, my melodi, doraeman tapi lama kelamaan jadi (nggak) Ganteng-ganteng (banget) Srigala, 7 Manusia Harimau, Bidadari Jatuh Cinta dll yang bakalan bikin kamu geleng-geleng kepala sampil rolling eyes, karna itu diucapkan sama anak SD dengan semangat dan mata berbinar-binar sambil loncat-loncat, terus pas liat Pemainnya “Ya ampun ganteng banget Aliando” sambil dipamer-pamerin ke temen-temen yang lain.

Sebenernya ini nggak lepas dari tanggung jawab emaknya juga. Karna entah emang emaknya juga males ribet, karna mungkin sibuk (sibuk dibaca nyalon, bbman, arisan, shopping) maka nggak sempet dampingin anak-anaknya didepan TV atau gadget mereka. Sungguh terlalu *ambil gitar*.

Sedangkan aku dulu dididik ibuk dengan; “jangan nonton itu, banyak tante-tante nggak tau malunya pamer-pamer paha” “Toto, nggak bobok? Udah jam 9 lo” “Ih Toto, nontonnya tontonan orang gede semua, males ah Ibuk nemenin”. Paling gitu sih.

Kalau kamu? Masuk generasi mana? :)